Jelang Ramadhan, Perajin Mahkota Kubah Masjid Kebanjiran Pesanan

JOMBANG, rednews.co.id – Menjelang datangnya bulan Suci Ramadhan ternyata menjadi berkah tersendiri bagi pengrajin mahkota kubah Masjid dan Musala di Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang yang mulai kebanjiran pesanan.

Ia adalah Imam Mutaqin (37) asal Desa Petirhilir, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, yang merantau mengadu nasib ke kota santri dengan membuka usaha kerajinan tangan berbahan stainles di rumah kontrakannya di Desa Janti, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, sejak 2016 lalu.

Dengan berjalannya waktu, pria lajang asal Ciamis itu, mencoba membuat mahkota kubah Masjid dan Musala. Dari situ, produknya semakin dikenal bagus dan bisa bertahan lama dibanding produk lainnya yang mempunyai perbedaan bahan dan pembuatannya.

Sehingga, menjelang datangnya bulan Ramadhan 1442 Hijriyah ini, Imam mengaku mulai menerima pesanan lebih dibandingkan hari-hari biasanya, yang hanya menggarap 10 hingga 15 unit mahkota kubah.

“Alhamdulillah mendekati bulan puasa ini ada peningkatan pesanan mahkota kubah, sekarang saya bisa menerima pesanan 30 sampai 35 unit mahkota kubah dalam satu bulan, dan itu pun masih terus berdatangan pesan,” kata Imam Mutaqin, Rabu (31/3) sore.

Lebih lanjut Imam menerangkan, produknya yang dipasarkan secara online ini dibanjiri pesanan. Pesanan tidak hanya datang dari kota Jombang saja, namun pesanan juga datang dari beberapa kota di Jawa Timur.

“Pesanan selain dari sekitar Jombang, dari Sidoarjo, Surabaya sampai Banyuwangi, Lamongan juga ada masuk. Untuk pengiriman, ada yang diambil sendiri ada juga yang dikirim lewat expedisi,” terang Imam.

Sementara dalam pembuatan satu mahkota kubah, Imam mampu mengerjakan sendiri dalam waktu dua hingga tiga hari dengan ukuran bervariatif, dirinya pun mampu menyelesaikan 20 hingga 25 unit mahkota kubah dalam satu bulan. Dan harga yang dipatok, mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 3.500 juta, sesuai dengan ukuran pesanan.

“Untuk cepat atau lamanya pembuatan mahkota kubah, tergantung model dan besar kecilnya pesanan. Kalau harga paling murah tiga ratus ribu dan yang paling mahal mencapai harga tiga juta lima ratus,” imbuhnya.

Dengan banyaknya pesanan ini, Imam bisa mendapatkan omset lebih, dibandingkan hari-hari biasa. Di bulan biasa sebelum mendekati Ramadhan, dirinya hanya mendapatkan Rp 5 juta sampai 10 juta perbulan. “Sekarang saya mendapatkan omset Rp 20 juta dalam satu bulan, Alhamdulillah ada kenaikan. Selain membuat kubah, saya pun menerima pesanan kaligrafi” pungkas Imam Mutaqin.

Meski pun banyak pesanan pada bulan-bulan khusus seperti ini, Imam tetap mengerjakannya sendiri. Hal ini dilakukan, untuk menjaga kwalitas mahkota kubah yang terbuat dari bahan plat stainles, yang bisa bertahan hingga puluhan tahun. (jang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *