Geram Dengan Limbah, Warga Desa Tutup Aliran Sungai

Warga menutup aliran sungai yang dialiri limbah pemindangan. (foto: mustagfirin/rednews.co.id)

TRENGGALEK, rednews.co.id -Lantaran geram dengan limbah pemindangan yang mengalir di sungai, Minggu (20/9) warga Desa Margomulyo dan Prigi melakukan aksi bendung sungai aliran limbah pemindangan ikan laut.

Salah seorang tokoh masyarakat setempat menjelaskan kepada rednews.co.id mengatakan, aksi warga ini merupakan satu bentuk protes terhadap limbah yang sudah mencemari lingkunganya hingga puluhan tahun.

Hingga saat ini masih belum ada penyelesaian yang kongkrit dari pemerintah maupun perusahaan pemindang. Meskipun sebelumnya Pemerintah Kabupaten Trenggalek sudah mewajibkan pemindang untuk membuat IPAL ( Instalasi Pengolahan Air Limbah ) namun hingga saat ini limbah yang dikeluarkan melalui IPAL masih belum ada perubahan, masih mengeluarkan bau busuk dan mengeluarkan air bewarna keruh.

“Kita lakukan aksi tutup sungai ini karena kami tidak tahu harus berbuat apa lagi, sudah puluhan tahun lingkungan kami dicemari limbah terus menerus. Tiap hari kami harus menghirup bau busuk dan air disekeliling kami juga berwarna keruh, meskipun pemerintah sudah mewajibkan pemindang tapi kenyataanya masih seperti ini mas”. Tuturnya.

Warga antusias menutup aliran sungai dengan tanah dari lahan warga. (foto: mustagfirin/rednews.co.id)

Salah seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya juga menuntut kepada Pemerintah untuk segera menyelesaikan persoalan limbah ini. Pihaknya juga mengancam jika persoalan limbah tidak segera diselesaikan pihaknya juga siap untuk melakukan aksi dengan masa yang lebih banyak lagi.

“Kami menuntut agar pemerintah segera menyelesaikan persoalan ini, jika pemerintah tidak serius kami akan lakukan aksi dengan melibatkan massa yang lebih banyak lagi”. Tegasnya.

Sementara itu aktivis lingkungan JAMBE (Jaringan Aksi Masyarakat Untuk Budaya dan Ekologi) saat ditemui rednews.co.id mengatakan, pihaknya sudah tidak dapat membendung lagi amarah masyarakat. Semua ini membuktikan bahwa masyarakat juga sudah pada titik nadzirnya meskipun beberapa langkah sudah ditempuh tapi sampai saat ini masih belum ada solusi bagi masyarakat terdampak.

“Saya sudah tidak dapat lagi membendung amarah masyarakat, karena masyarakat juga sudah pada titik nadzir, sebetulnya kami sudah beberapa kali melakukan upaya komunikasi dan dialog dengan pihak terkait, tetapi sampai saat ini masih belum ada titik temu”. Jelasnya. (fir)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *