Dari Lahan Tembakau untuk Kemajuan Petani: DBHCHT 2025 Dukung Program Peningkatan Kualitas Produksi di Tulungagung

Tulungagung Rednews.co.id-
Pemanfaatan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun 2025 kembali memberikan dampak nyata bagi masyarakat Tulungagung, khususnya para petani tembakau. Melalui Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, dana tersebut difokuskan pada program peningkatan kualitas bahan baku tembakau sebagai upaya pengamanan di tingkat produksi dan pemberdayaan petani agar lebih maju dan mandiri.

Program ini menjadi bagian penting dari implementasi alokasi DBHCHT yang diarahkan untuk mendukung sektor pertembakauan sesuai ketentuan pemerintah pusat. Dengan dukungan dana ini, Dinas Pertanian berkomitmen meningkatkan mutu hasil pertanian tembakau melalui pendampingan, pelatihan, dan penyediaan sarana prasarana produksi bagi kelompok tani di beberapa wilayah.

Ahmad Junaidi, Penyuluh Lapangan Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, menjelaskan bahwa fokus utama dinasnya tahun ini memang diarahkan pada peningkatan kualitas bahan baku.

“Jadi di SKPD kami memang fokus pada program peningkatan kualitas bahan baku, khusus untuk pengamanan di tingkat produksi kepada masyarakat petani tembakau,” ungkap Ahmad Junaidi saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurutnya, DBHCHT memberikan ruang besar bagi pemerintah daerah untuk memberdayakan petani tembakau agar tidak hanya mengandalkan cara-cara konvensional, tetapi juga mulai beradaptasi dengan pola budidaya modern dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Ahmad Junaidi menjelaskan bahwa kegiatan tahun ini diawali dengan pelatihan kelembagaan petani tembakau yang difokuskan pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Tujuannya adalah agar para petani memahami pentingnya kelembagaan yang kuat dan sistem produksi yang efisien.

“Kebetulan kami di bidang penyuluhan untuk peningkatan SDM, dalam hal perubahan perilaku daripada pelaku usaha dan pelaku utama yaitu petani,” ujarnya.

Dinas Pertanian berharap program ini mampu mengubah pola pikir petani dari yang konvensional menjadi lebih maju dan terbuka terhadap inovasi. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan penyuluhan yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan kebiasaan masyarakat tani.

“Peningkatan SDM berfokus pada bagaimana merubah pola perilaku petani konvensional menjadi petani yang lebih maju,” tambahnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Dinas Pertanian menerapkan dua metode utama dalam pelaksanaan kegiatan, yaitu penyuluhan langsung dan penyuluhan tidak langsung.

Metode penyuluhan langsung dilakukan dengan cara tatap muka, memberikan pendampingan di lapangan, serta memfasilitasi kebutuhan petani secara langsung. Sedangkan penyuluhan tidak langsung dilakukan melalui media massa dan elektronik, seperti koran, televisi, maupun media sosial.

“Dari yang belum tahu menjadi tahu, jadi yang belum bisa menjadi bisa, dan yang tidak mau menjadi mau,” tutur Ahmad Junaidi menggambarkan filosofi penyuluhan yang dijalankan.

“Metode penyuluhan tidak langsung dilakukan melalui media elektronik, koran, siaran TV, dan lainnya. Intinya tidak bisa berinteraksi langsung, sedangkan metode penyuluhan langsung adalah dengan berkomunikasi langsung dengan petani dan memberikan fasilitas yang diperlukan petani,” tambahnya.

Tahun 2025, kegiatan peningkatan SDM dan penguatan kelembagaan petani tembakau akan menyasar empat kecamatan di Kabupaten Tulungagung. Dinas Pertanian menugaskan tiga pengurus penyuluh lapangan untuk turun langsung melakukan pendampingan dan pelatihan kepada kelompok tani di daerah sasaran.

Wilayah yang menjadi target program meliputi, kecamatan Boyolangu, melalui kelompok Tani Rukun Santoso di Desa Waung. Kecamatan Campurdarat, melalui Kelompok Tani Ngudi Luhur di Desa Pojok. Kecamatan Pakel, melalui Kelompok Tani Gesikan Kedung Mulyo dan Kecamatan Gondang melalui Kelompok Tani Sumber Makmur di Desa Gondosuli.

Setiap kelompok tani terdiri dari sekitar 25 orang anggota aktif yang akan mengikuti program pelatihan dan sekolah lapangan.

“Tahun ini peningkatan SDM bakal menyasar ke wilayah empat kecamatan di Tulungagung. Tiga pengurus akan terjun ke lapangan untuk melakukan peningkatan kapasitas manajerial di lapangan,” terang Ahmad Junaidi.

Salah satu bentuk nyata kegiatan yang telah berjalan adalah penanaman demo percontohan yang dimulai sejak bulan Juli 2025. Program ini dilakukan secara bertahap di empat kecamatan, menyesuaikan kondisi iklim dan kesiapan lahan. Sebagian wilayah lain dijadwalkan melakukan penanaman kembali pada bulan November.

Demo percontohan berfungsi sebagai wahana belajar langsung bagi petani untuk memahami teknologi budidaya tembakau yang efisien, mulai dari penyemaian, perawatan daun, hingga masa panen.

Kegiatan ini dikombinasikan dengan konsep sekolah lapangan langsung yaitu kelas belajar non-formal di mana penyuluh bertindak sebagai fasilitator, dan petani sebagai peserta aktif.

“Sekolah lapangan adalah kelas belajar non formal. Penyuluh memberikan fasilitas, petani ditransfer teknologi mulai dari penyemaian sampai tahapan akhir masa panen,” jelas Ahmad Junaidi.

Tidak berhenti di tahap pelatihan, Dinas Pertanian juga akan melakukan pemantauan dan evaluasi secara periodik terhadap perkembangan kegiatan di setiap kelompok tani.

Kemudian kegiatan pemantauan tersebut, Dinas Pertanian dapat menyusun rekomendasi kebijakan yang lebih tepat sasaran di tahun berikutnya. Evaluasi juga berfungsi untuk memastikan efektivitas penggunaan DBHCHT agar hasilnya benar-benar dirasakan oleh petani di lapangan.

“Penyuluh nanti akan memantau dan mengamati secara periodik perkembangan dari awal, masa perawatan daun hingga panen, dan hasil pengamatan akan dijadikan kesimpulan berikutnya,” tutupnya. (Lam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *