KEDIRI – rednews.co.id- Karnival di Kecamatan Pare sudah diselenggarakan pada 19 Agustus 2023, namun pengumuman resmi baru di keluarkan 3 september 2023 oleh Karang Taruna dan Kecamatan Pare. Pada pengumuman tersebut yang menjadi juara 1 adalah SMAN 1 Pare, memang ada yang menarik dari pementasan yang ditampilkan SMAN 1 Pare.
Kepala SMAN 1 Pare, M.Tajuddin Subekti dalam kesempatan ini menyampaikan bahwa, ia sangat mengapresiasi prestasi yang telah diperoleh Putra-putrinya ketika mengikuti Pementasan Pare Culture Heritage Carnival.
Tajudin menambahkan bahwa, “Kami sangat mengapresiasi kerja keras dari Tim Kreasi, baik dari pengajar maupun siswa-siswa, begitu juga dengan yang membantu atau turut mengambil bagian dalam rangka Pementasan Pare Culture Heritage Carnival, yang mana Semarak Pesona Ruwatan Sudhamala SMAN 1 Pare akhirnya mendapatkan juara 1. Saya juga mengucapkan terimakasih pada semua pihak, sehingga acara Pementasan Pare Culture Heritage Carnival ini berjalan lancar dan sukses, ” demikian terangnya.
Sementara menurut Gigih Satrio Wicaksono S.Pd., guru sejarah SMAN 1 Pare sekaligus pemerhati pendidikan dan kebudayaan menjelaskan bahwa, “Pengambilan tema koreografi SMAN 1 Pare lebih menitik beratkan pada kearifan lokal cerita ruwatan di Candi tegowangi”. Lanjutnya, ia menjelaskan “Kearifan lokal ini sejalan dengan implementasi kurikulum merdeka Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang pernah dijalankan di SMAN 1 Pare”, terangnya.
Selanjutnya, Sultan Shalihuddin Al Ayubi, S.Pd., guru seni rupa di SMAN 1 Pare juga menambahkan bahwa, “Dengan adanya P5 di dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka, maka anak-anak menjadi mudah dan terbiasa dalam pembuatan Properti, Koreografi Pementasan dan Seni Tarinya, hal ini perlu dikembangkan terus dan dilestarikan, agar supaya lebih melatih kreatifitas anak didik, ” jelasnya.
Perlu diketahui bahwa, sejalan dengan program pemerintah, dalam rangka Pengembangan Kearifan lokal dan pengejawantahan budaya, yang diwariskan secara turun-temurun perlu dikembangkan terus supaya tidak mengakibatkan pergeseran nilai-nilai budaya yang dapat menimbulkan hal negatif pada generasi muda. Karena pendidikan dan kebudayaan itu pada dasarnya adalah satu kesatuan yang saling melengkapi sesuai dengan prinsip yang diajarkan oleh Bapak Pendidikan kita yaitu Ki Hadjar Dewantara, untuk pendidikan pembelajaran Among dan untuk kebudayaan adalah Tri Kon yaitu Konvergen, konsentrasi dan kontinyu (mys).

