Pemerhati Budaya Margono, M.Pd, Artikel Kategori Nilai Seni Budaya Untuk Membina cipta-rasa-karsa Anak Guna Mencapai Merdeka Belajar

Pemerhati Budaya Margono, M.Pd, Artikel Kategori Nilai Seni Budaya Untuk Membina cipta-rasa-karsa Anak Guna Mencapai Merdeka Belajar

Sebagai ilustrasi Seni Tari sebagai salah satu wujud dari Budaya, seni tari ini dapat memotivasi, menumbuhkan kepekaan intelektual, perasaan, dan gerak motoriknya anak. Anak yang mengenal seni tari, jiwanya akan lebih halus.

Pembelajaran Seni Tari untuk memperhalus Jiwa Anak, hal ini juga disampaikan oleh
Pamong seni tari Purwati bahwa, “Dengan Seni Tari siswa dapat menguasai gerakan tari, juga sebagai bentuk pembinaan kehalusan budi dan kemandirian sikap anak”.

Untuk kelas I dan II gerakan seni tari untuk memberikan pengalaman menirukan pola gerak yang sederhana dan mengenal tentang struktur (tata urutan gerak) sederhana, biasanya menirukan gaya atau gerakan binatang seperti bebek, kuda (Purwati, 2012:10).

Hal ini juga diungkapkan bahwa, Manfaat seni tari pada jenjang SD untuk anak kelas rendah (I s.d III) menekankan pada kemampuan gerak konstruktif yang sederhana (gerak berpola) dan peningkatan kemampuan menangkap pola irama (Hidayat dan Suprihatin, 2011:108).

Chatam, AR mengatakan, “Bahwa sangat penting untuk mengenalkan seni tari pada dunia anak sedini mungkin, terutama pada anak usia sekolah dasar. Sekolah perlu
terus melestarikan dan mengembangkan seni dalam pembelajaran untuk pengembangan
kepribadian anak” (Maestro Seni Tari Topeng Bapang dari Malang, Chattam Amat
Redjo (1943) dosen luar biasa di Universitas Negeri Malang (UM). Hal ini juga sesuai
dengan Misi untuk Menanamkan nilai budaya (nilai budi pekerti luhur) bangsa melalui
pendidikan kesenian.

Keterpaduan dan Keharmonisan Pola Pembelajaran Cipta-rasa-karsa Pembelajaran Pendidikan Ketamansiswaan di Kelas I, II, dan III merupakan pembelajaran untuk Isi Cipta-rasa-karsa. Isi Pembelajaran Pendidikan
Ketamansiswaan terkandung isi dari Tri Sakti Jiwa yaitu untuk mencerdaskan ciptarasa-karsa anak.

Hal ini juga diungkapkan oleh peneliti sebelumnya bahwa Pendidikan Budi Pekerti dapat dilakukan dengan mencerdaskan cipta-rasa-karsa anak, berikut pendapatnya: Penanaman kecerdasan budi pekerti siswa dapat dilakukan melalui aspek intelektual, emosional, dan konasional. Penanaman
kecerdasan budi pekerti siswa aspek intelektual, emosional, dan konasional
diwujudkan dalam tindak tutur cipta, rasa, dan karsa (Suwignyo, 2011:86).

Pendidikan Ketamansiswaan, mempunyai tujuan pembelajaran untuk menanamkan budi pekerti swadisiplin pada diri anak, perwujudan perubahan tingkah laku yang lebih baik, yaitu yang bermanfaat bagi kepentingan diri dan
lingkungan di sekitar anak, memiliki budi pekerti luhur (Kuswandi, 2005:259).

Pembelajaran Isi dari cipta-rasa-karsa yang merupakan upaya mencerdaskan isi cipta-rasa-karsa-nya anak, hal ini untuk mencapai Tri Sakti Jiwa anak. Dengan pembelajaran yang utuh, serasi, selaras, dan seimbang dari isi cipta-rasa-karsa anak akan mencapai kematangan jiwanya, inilah filosofi dari Pembelajaran Among atau yang sekarang lebih dikenal dengan Kurikulum Merdeka Belajar, bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *