Pelatihan Pembelajaran, Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri Dorong Guru SD Hadirkan Matematika yang Menggembirakan

KEDIRI – rednews.co.id – Matematika tak seharusnya menjadi momok bagi siswa sekolah dasar. Di balik angka, rumus, dan deretan soal, terdapat ruang belajar yang bisa dibangun secara menyenangkan untuk mengasah logika, kreativitas, serta keberanian anak dalam memecahkan persoalan.

Mengubah wajah pembelajaran matematika agar lebih dekat dengan dunia anak menjadi salah satu perhatian Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri. Melalui Pelatihan Matematika Gembira bagi Guru Sekolah Dasar (SD) Tahun 2026 yang berlangsung pada 2–4 November 2026, para pendidik didorong meninggalkan pola pembelajaran yang monoton dan mulai menghadirkan proses belajar yang lebih kreatif, interaktif, serta bermakna.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Dr. Mokhamat Muhsin, M.Pd., menegaskan bahwa guru memiliki peran penting dalam membangun persepsi positif siswa terhadap matematika. Menurutnya, anak-anak tidak boleh lebih dahulu merasa takut sebelum mengenal dan memahami pelajaran tersebut.

“Matematika harus dikenalkan kepada anak-anak dengan cara yang menggembirakan. Jangan sampai siswa lebih dahulu merasa takut sebelum memahami materinya. Guru harus mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif, interaktif, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik,” tegas Muhsin.

Ia menjelaskan, pembelajaran matematika tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan menghafal rumus dan memperoleh jawaban benar. Lebih dari itu, siswa perlu dibimbing untuk memahami konsep, mengembangkan penalaran, serta berani mencoba berbagai cara dalam menemukan solusi.

Karena itu, pelatihan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penambahan pengetahuan bagi guru, tetapi benar-benar diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

“Yang ingin kita bangun bukan hanya kemampuan anak dalam berhitung, tetapi juga pola pikirnya. Bagaimana siswa mampu memahami persoalan, menemukan cara penyelesaian, dan memiliki keberanian untuk mengemukakan gagasan. Di sinilah kreativitas guru sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Muhsin menambahkan, kemampuan numerasi merupakan salah satu fondasi penting dalam pendidikan dasar. Keterampilan tersebut bukan hanya menunjang keberhasilan akademik, melainkan juga menjadi bekal bagi anak untuk memahami dan menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

Pelatihan ini melibatkan guru-guru SD dari berbagai kecamatan di Kabupaten Kediri. Berdasarkan pembagian kuota, kegiatan pada hari pertama dan kedua masing-masing diikuti 108 peserta. Sementara pada hari ketiga, peserta mengikuti sesi lanjutan sesuai kelompok yang telah ditentukan.

Kegiatan dipusatkan di SDN Gurah 2 dan SDN Sumbercangkring, Kecamatan Gurah. Pada Rabu (4/11/2026), pelatihan hari ketiga berlangsung dalam dua sesi, yakni pukul 07.00–11.00 WIB dan 12.00–16.00 WIB.

Dalam pelaksanaannya, para guru didorong mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih variatif melalui permainan edukatif, aktivitas interaktif, serta penggunaan persoalan kontekstual yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Dengan pendekatan tersebut, siswa diharapkan tidak sekadar menjadi penerima materi, melainkan terlibat aktif melalui kegiatan bertanya, bereksplorasi, mencoba, berdiskusi, hingga menemukan sendiri konsep matematika yang dipelajari.

Menariknya, pembelajaran matematika juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui pendekatan kearifan lokal. Lingkungan, budaya, tradisi, hingga aktivitas ekonomi masyarakat Kabupaten Kediri dapat menjadi sumber belajar yang konkret dan mudah dipahami anak.

Pandangan tersebut disampaikan salah satu peserta pelatihan dari SD Negeri Pranggang 3, Kecamatan Plosoklaten, Karwiati, S.Pd.

Ia mengaku memperoleh banyak wawasan dan inspirasi baru untuk mengembangkan pembelajaran matematika yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga relevan dengan kehidupan siswa.

“Melalui pelatihan ini, kami mendapatkan banyak ide dan cara baru dalam mengajarkan matematika kepada siswa. Menurut saya, pembelajaran matematika juga bisa dikembangkan dengan mengangkat kearifan lokal Kabupaten Kediri. Misalnya, mengenalkan konsep berhitung, pengukuran, bangun datar, hingga perbandingan melalui aktivitas di lingkungan sekitar, seperti kegiatan pertanian, perdagangan di pasar tradisional, kerajinan, maupun permainan tradisional yang sudah dikenal anak-anak,” terang Karwiati.

Menurutnya, menghubungkan materi pelajaran dengan lingkungan dan budaya setempat akan membuat matematika lebih mudah dipahami karena siswa dapat melihat langsung penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan pendekatan seperti ini, siswa bisa belajar matematika sekaligus mengenal lingkungan, budaya, dan potensi daerahnya sendiri. Harapannya, anak-anak tidak lagi menganggap matematika sebagai pelajaran yang menakutkan, tetapi menjadi kegiatan yang menyenangkan, dekat dengan kehidupan mereka, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap daerahnya,” tambahnya.

Pendekatan tersebut sekaligus membuka ruang bagi guru untuk mengintegrasikan pembelajaran numerasi dengan pengenalan identitas daerah. Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh kemampuan akademik, tetapi juga tumbuh dengan pemahaman terhadap lingkungan sosial dan budaya tempat mereka tinggal.

Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri berharap Pelatihan Matematika Gembira mampu melahirkan guru-guru yang inovatif, adaptif, dan mampu menciptakan suasana belajar yang menggembirakan. Sebab, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan fasilitas sekolah, tetapi juga oleh kreativitas pendidik dalam menghidupkan proses pembelajaran.

Pada akhirnya, matematika bukan sekadar urusan angka, rumus, atau jawaban benar. Di dalamnya terdapat proses membangun cara berpikir logis, kritis, kreatif, dan percaya diri. Ketika matematika diajarkan dengan pendekatan yang tepat, bahkan lingkungan dan kearifan lokal Kabupaten Kediri pun bisa menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak. (yy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *