JOMBANG.rednews.co.id.- Kenaikan harga telur ayam ras diperkirakan akan terus terjadi. Hal ini diketahui setelah peternak menyampaikan beberapa alasan tentang kenaikan harga telur tersebut.
Eko Murdianto (38) seorang peternak telur ayam asal Desa Mojotengah, Kecamatan Bareng menjelaskan bahwa faktor penyebabnya karena sekitar awal bulan Agustus, harga pakan ayam dipasaran masih alami kenaikan.
“Dari peternak, telur ayam kita jual sudah 27 ribu perkilogram, dan jika dijual dipasaran kurang lebih ya sekitar 29 sampai 30 ribu. Ini dampak pakan yang naik sejak lebaran lalu,” kata Eko kepada wartawan, dilokasi ternaknya, Jumat (26/8).
Ia mengungkapkan, akibat melonjaknya harga pakan ternak tidak terkontrol rekan-rekan peternak telur ayam ras lainnya banyak yang gulung tikar. Namun jika masih bertahan, mereka terpaksa harus menjual ayam ternaknya atau mengurangi jumlah populasi ayam di kandang peternakan.
“Awalnya harga pakan masih 420 ribu per karung atau sak yang berisi 50 kilogram. Tapi dalam dua pekan belakangan ini naik hingga tembus mencapai 470 sampai 490 ribu,” jelasnya.
Dampak turunnya produksi telur itu, Eko juga harus mengurangi 3 ribu ekor ayam miliknya, yang sebelumnya 8 ribu sekarang tinggal 5 ribu ekor di kandangnya. Jadi produksi telur ayam miliknya sekarang ini masih belum memenuhi kebutuhan masyarakat yang juga meningkat, karena bebarengan juga dengan penyaluran BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai).
“Daya beli pembeli telur rata-rata di pasar hanya dikurangi, masyarakat juga terbantu adanya bansos itu. Sekarang juga bantuan diserahkan, itu juga mempengaruhi harga ayam,” pungkasnya.
Sementara itu, Kabid Sarana Perdagangan dan Barang Pokok Penting Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Jombang, Yustinus Harris Eko Prasetijo juga mengakui kenaikan harga telur yang kini sudah mencapai level tertinggi dibandingkan sebelumnya.
Yustinus memaparkan, dari hasil pemantaun di pasar, kenaikan harga dikarenakan kebutuhan masyarakat yang meningkat, dan ditambah lagi harga pakan juga tinggi. Pihaknya akan terus melakukan pemantuan terkait harga telur di pasaran. Jika nantinya, mengalami kelonjakan harga yang cukup signifikan pihaknya akan melakukan operasi pasar (OP).
“Di bulan Agustus ini memang kebutuhan masyarakat banyak. Kalau memang harga naik signifikan maka akan dilakukan operasi pasar seperti sebelumnya,” terangnya.
Ia menambahkan, pihaknya akan terus juga melakukan koordinasi dengan Dinas Peternakan beserta dinas-dinas terkait. Hal ini lantaran kenaikan harga telur ini juga disebabkan naiknya harga pakan ternak. Bahkan, tidak hanya komoditi telur yang naik, dari data yang ia terima, Daging ayam broiler juga mengalami kenaikan.
“Kami juga akan berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait terkait kenaikan ini. Selain telur, harga daging ayam broiler tembus di Rp 32 ribu perkilogram, yang sebelumnya masih 30 ribu, jadi dalam sepekan ini kenaikan daging tercatat naik 2 ribu,” tungkasnya. (BEN)

