Ponorogo Rednews.co.id- Kemeriahan Grebeg Suro di Ponorogo berpindah dari Kota Tengah ke Kutho Kulon (Kota Barat). Venue yang semula berada di Panggung Utama Alun-Alun bergeser penuh ke gelanggang Monumen Bantarangin di Desa Somoroto Kecamatan Kauman.
Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita sempat geleng-geleng mendapati pertunjukan beragam kesenian dengan massa yang menyemut di kawasan Monumen Bantarangin, Rabu (15/7/2026) malam. Bunda Lis sapaan PLT Bupati Ponorogo Lisdyarita, kian meyakini bahwa budaya merupakan kekuatan besar milik Ponorogo bersamaan gelaran Grebeg Tutup Suro Bantarangin itu.
“Saya merasakan kekuatan besar masyarakat di Kutho Kulon dalam merawat kebudayaan mereka,” kata Bunda Lis. Kutho Kulon adalah sebutan untuk wilayah eks-Pembantu Bupati (PB) Somoroto yang meliputi Kecamatan Kauman, Sukorejo, Sampung, Badegan, dan Kecamatan Jambon.
Bupati perempuan pertama di Ponorogo itu mengajak masyarakat lebih getol mengenalkan budaya daerah ke generasi penerus. Apalagi, Somoroto masuk catatan sejarah sebagai pusat Kerajaan Bantarangin, cikal bakal lahirnya kesenian Reog Ponorogo. “Bagian dari upaya melestarikan nilai-nilai luhur sekaligus mendukung perkembangan sektor pariwisata yang dampaknya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.
Bunda Lis dari panggung Monumen Bantarangin menyerahkan penghargaan kepada sejumlah pegiat seni wayang kulit, ketoprak, dan reog. Penampilan para seniman dan anggota Sanggar Seni Kawulo Bantarangin serta kalangan pelajar andil besar menyemarakkan panggung Grebeg Tutup Suro Bantarangin.
Pun, warga sudah berduyun datang sejak petang. Camat Kauman Toni Khristiawan menyebut Grebeg Tutup Suro Bantarangin bukan sekadar agenda rutin tahunan. Namun, momentum untuk menjaga warisan budaya yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat. “Tradisi yang sudah menjadi identitas wilayah,” jelas Toni yang mengacungkan dua jempol tangan atas peran serta seluruh elemen masyarakat dalam mensukseskan Grebeg Tutup Suro Bantarangin.
Toni mengungkapkan, gelaran event berskala besar mampu menggerakkan roda perekonomian lebih cepat. Pelaku usaha, termasuk UMKM, menangguk keuntungan dari aktivitas masyarakat yang meningkat. “Bersamaan perkembangan Kutho Kulon yang begitu pesat,” pungkasnya. ( Risdiyanto)

