PAMERAN “SESUDAH HUJAN”

Surabaya, rednews.co.id -Merawat Memori Air, Merayakan Ketangguhan Warga
Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR) UNTAG Surabaya bersama masyarakat Kampung Sememi Kidul bersiap menggelar pameran hasil lokakarya kreatif bertajuk “Sesudah Hujan”. Acara ini akan diselenggarakan pada 1-5 Maret 2026 bertempat di Taman Bermain Balai RW 4, Kampung Sememi Kidul, sebagai ruang berbagi cerita dan apresiasi terhadap ketangguhan warga dalam merawat ruang hidupnya.

Pameran ini merupakan muara dari lokakarya kreatif yang berlangsung selama sepuluh hari. Luaran utama yang akan diperkenalkan adalah sebuah Zine (Jurnal Kreatif) hasil kolaborasi antara partisipan dan warga. Zine ini merangkum narasi keseharian melalui ragam media seperti tulisan reflektif, kolase, dan ilustrasi visual yang menangkap keunikan yang ada di Sememi Kidul. Dalam lokakarya ‘Sesudah Hujan’ ini, partisipan diajak mengamati Kampung Sememi Kidul dan keseharian serta memori warganya, dan diberikan beberapa materi sebagai bekal mereka menyusun jurnal kreatif masing-masing, secara kreatif sekaligus komunikatif.

Materi-materi tersebut meliputi:
● ‘Menulis dan Menyusun Kerangka Berpikir’ oleh Bintang Putra
● ‘Stilasi Karakter Manusia’ oleh Pingki Ayako
● ‘Kolase dan Tata Letak’ oleh Yohanes Tody.
Fokus utama pameran ini adalah menampilkan koleksi memori kolektif warga mengenai interaksi mereka dengan air. Pengunjung akan diajak melihat bagaimana warga Sememi Kidul memiliki cara cara tersendiri dalam menyikapi banjir. Pameran ini merupakan lanjutan dari Lokakarya yang dirancang sebagai ruang kolaboratif untuk membaca kembali bagaimana praktik-praktik keseharian warga yang sering terabaikan dalam arsip resmi kota Dengan menempatkan warga sebagai subjek yang memiliki otoritas atas memorinya dan seniman sebaga mitra dialog, proses ini bertujuan untuk membedah bagaimana aktivitas air berkelindan dengan aktivitas manusia. Melalui penelusuran sejarah lisan dan pemetaan sisa-sisa fisik pasca-huian, kita berupaya menemukan kembali pola-pola budaya yang lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan warga dalam merespons perubahan air, musim, bahkan iklim

Tema “Sesudah Hujan” pada akhirnya merupakan sebuah upaya untuk mendokumentasikan bagaimana warga kampung di Surabaya menegosiasikan identitasnva di tengah perubahan lanskap yang drastis. Perubahan iklim yang menciptakan lapisan-lapisan sejarah yang perlu dicatat agar tidak hilang tertutup semen.

Pameran ini merupakan hasil kerja sama yang baik antara akademisi, seniman, pemerintah setempat, dan seluruh warga RW 4 Sememi Kidul. Kehadiran pameran ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi dan inspirasi bagi publik luas mengenai pentingnya menghargai memori lokal dan kreativitas komunitas dalam menghadapi dinamika lingkungan di masa depan, jelas Pingki Ayako sebagai mentor dan desainer pameran dalam riset ini (Riz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *