KEDIRI, rednews.co.id -Pemerintahan Desa Jagul, Kecamatan Ngancar dalam menindaklanjuti program dari Bupati Kediri H. Hanindhito Himawan Pramana, SH., (Mas Dhito) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kabupaten Kediri tentang adanya Lomba Penulisan Cerita Rakyat, maka dalam hal ini Kepala Desa (Kades) Jagul telah menyiapkan sebuah cerita rakyat, yaitu sejarah Legenda Gajah Putih, pada hari Rabu, (20/07/2022).
Cerita rakyat tentang Gajah Putih atau Gajah Gulung (Jagul) ini sangat melekat di kalangan warga desa dan diceritakan secara turun temurun. Desa Jagul ini mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah petani, dan Jagul dibagi menjadi 2 Dusun, yakni Dusun Jagul I dan Dusun Jagul II. Dengan kearifan lokal para sesepuh pada zaman dahulu menggabungkan kedua dusun tersebut menjadi satu desa yaitu Desa Jagul.
Melalui media ini Kades Jagul Linda Nurmala, S.Sos., menyampaikan bahwa pada zaman dahulu kala ada beberapa tokoh yang menjadi cikal bakal (babad alas/hutan) dengan membuka area hutan menjadi daerah pemukiman, Linda Nurmala mengatakan, “Ada tiga tokoh yang menjadi cikal bakal atau leluhur dari Desa Jagul, yaitu; Mbah Edor, yang dipercaya bahwa beliau adalah seorang senopati dari kerajaan Kediri dan Mbah Lamat. Dari kedua makam tokoh tersebut oleh warga desa Jagul dijadikan punden desa, sedangkan tokoh yang ketiga dikenal dengan nama Mbah Nggolo, ” terangnya.
Masih menurut Linda Nurmala bahwa Mbah Nggolo ini adalah seorang Srati atau pawang gajah milik kerajaan Kediri, Mbah Nggolo ini adalah seorang pawang gajah yang sangat baik, sehingga raja dari Kerajaan Kediri, telah mempercayakan pada beliau ini seekor gajah yang memiliki warna kulit putih dan dikenal dengan nama Gajah Putih. Selain itu beliaunya juga menjadi pawang dari binatang gajah-gajah yang lainnya.
Sementara Mbah Nggolo ini bertempat tinggal di bagian utara, sehingga tempat tersebut dikenal dengan nama Sraten (tempat rumah srati). Bertahun-tahun Mbah Nggolo memelihara gajah putih ini dengan penuh kasih sayang, seperti layaknya jadi keluarga sendiri, sehingga mereka memiliki hubungan batin yang kuat. Dan suatu ketika, tiba-tiba Mbah Nggolo ini menghilang dan juga tidak menemui gajah-gajah peliharaan yang lainnya.
Dengan hilangnya Mbah Nggolo ini, telah membuat gajah putih ini menjadi resah, gelisah, kebinggungan dan bahkan berusaha melepaskan diri untuk mencari majikan/tuannya (Mbah Nggolo). Kemudian sang gajah putih inipun berjalan ke arah timur, dengan menuruti instingnya yang tajam.
Dan sesampai Gajah Putih ini di hutan bagian timur, alangkah sedih dan amarahnya si gajah putih ini memuncak, karena tatkala menemukan sang majikannya Mbah Nggolo dalam keadaaan tidak bernyawa/meninggal dunia. Dan naasnya yang tersisa dari jasad hanya tinggal kepalanya (sirah) saja yang ditemukan. kemudian didaerah tempat ditemukannya kepala Mbah Nggolo ini, dikenal dengan nama Sumber Sirahnggolo.
Dengan rasa kesedihan dan kemarahan yang bercampur-campur, karena menemukan tuannya telah meninggal dunia, maka gajah putih itupun bergulung-gulung (Dalam bahasa Jawa: gulung) di tanah. Dari sinilah muncul kata Gajah Gulung yang menjadi cikal bakal nama desa dan lambat laun menjadi Jahgul/Jagul.
Setelah itu gajah putih inipun kemudian berlari ke arah selatan, mengamuk mencabuti pohon-pohon hingga tersisa satu pohon aren. Ketika mencabut pohon aren inilah satu gading gajah patah (Rampal) hingga daerah itu disebut Rampal Gading (namun daerah ini masuk wilayah Desa Pandantoyo).
Melalui saluran whatsapp Camat Ngancar Elok Etika, S.Sos., MM., menyampaikan pada media ini bahwa ia sangat mengapresiasi langkah dari Kepala Desa Jagul Linda Nurmala, yang telah mempersiapkan dan mengangkat cerita rakyat Legenda Gajah Putih di desanya, Camat Elok mengatakan, “Saya berharap cerita rakyat Gajah Putih dari Desa Jagul ini, bisa menjadi inspirasi bagi Kepala Desa yang lain di wilayahnya, untuk mempunyai keberanian dalam menampilkan cerita rakyat lainnya sebagai kearifan lokal di daerahnya masing-masing”, demikian terangnya.
Kepala SMPN 1 Ngancar yang juga Tokoh dari masyarakat setempat Bagus Dwidjajanto, S.Pd., M.Si dalam kesempatan ini menyampaikan bahwa, masyarakat di desanya sangat menghargai sejarah, asal muasal atau riwayat yang telah berkembang turun-temurun tentang Gajah Putih atau Gajah Gulung ini, Ki Bagus mengatakan, “Dibalik legenda sejarah dari cerita rakyat Gajah Gulung ini, menyimpan banyak makna kearifan lokal yang dapat dipelajari dan untuk diteladani. Misalnya ini bisa dijadikan Wisata Edukasi (Eduwisata), untuk menumbuhkembangkan antara pendidikan dan kebudayaan, kemudian mengeksplorasi tentang nilai-nilai luhur yang ada dalam cerita rakyat ini, serta untuk kemudian dapat diteladani, diantaranya nilai-nilai tentang: kasih sayang, perjuangan, pengorbanan, keikhlasan, Budi pekerti luhur, dan yang lainnya, ” demikian terangnya.
Kemudian Ki Bagus juga mencontohkan seperti adanya Pantun Petuah/nasehat, misalnya, “Gajah mati meninggallkan Gading, Harimau mati meninggalkan belang. Pesan- pesan moral lainya, yang artinya bahwa, orang hidup atau manusia itu akan selalu dikenang akan amal dan perbuatanya, apakah amal yang baik atau sebaliknya, maka sebaik-baiknya manusia itu adalah yang berilmu pengetahuan, beragama dan berbudi pekerti yang luhur, sehingga akan dikenang amal ibadahnya atau kebaikannya.
Disisi yang lain, Pengamat budaya Ki Margono, M.Pd., dalam hal ini menyikapi fenomena tentang adanya, “Punden, ” di setiap daerah Desa/Dusun atau tempat tertentu, bahwa istilah punden itu berasal dari kata pundi, (Pepundi/pepunden) yang artinya “dijunjung”/”dimuliakan” punden tidak merujuk pada sebuah objek tertentu melainkan penyebutan secara umum, yg artinya punden bisa menyebut benda mati (makam tokoh tertentu/makam keramat, batu/pohon=petilasan) ataupun orang yang masih hidup (pepunden). pepunden juga berarti junjungan, bisa majikan, orang tua, tokoh masyarakat yang dihormati, orang yang dianggap berjasa, pemimpin.
Punden ini biasanya juga ada makam dari seseorang yang merupakan cikal bakal atau babad suatu daerah. Babad hutan atau alas gung lewang-lewong, bahkan istilahnya jalmo moro jalmo mati, karena harus menaklukan kehidupan yang ada di hutan itu, hewan buas ataupun penghuni yang lainnya. Maka itu semua merupakan suatu wujud, perjuangan, pengorbanan (toh nyowo nyawa taruhannya) dan memerlukan keikhlasan.
Sehingga dikemudian hari karena berkat jasanya seorang Pepunden (cikal bakal/babad) tersebut, maka bermanfaat membawa berkah bagi masyarakat disekitarnya, misalnya bisa menjadi pemukiman penduduk dengan adanya Sumber mata air Sirah Nggolo.
Dengan adanya sumber mata air ini merupakan sumber dari kehidupan, baik untuk tanaman, hewan dan manusia. Bahkan saat ini Sumber Sirah Nggolo ini juga sudah berkembang menjadi ikon tempat wisata yang mempunyai nilai ekonomis dan strategis buat masyarakat, baik untuk berwisata, hiburan, pusat kuliner, juga manfaat yang lainnya (Eduwisata).
Konotasi Sumber Sirah, artinya pusatnya sumber mata air (dalam bahasa jawa Sirah itu artinya ndas, kepala, pusat). Sedangkan untuk Mbah Nggolo adalah nama orang yang babad alas.
Sedangkan pesan kearifan lokalnya maka kita, anak-anak kita dan generasi mendatang harus lebih peduli pada alam, mengenal lingkungan dan melestarikan adat-istiadat, tradisi, budaya leluhur. Menghargai jasa leluhur, nenek moyang, orang tua, kasih sayang terhadap sesama, bahkan termasuk mendoakan orang tua yang telah tiada atau meninggal dunia sekalipun.
Pesan moral yang lainnya, bahwa mengutip Fatwa dari seorang ulama ada 3 amalan yang akan terus mengalir pahalanya, amalan itu adalah: 1. Ilmu yang bermanfaat, 2. Amal Jariyah dan 3. Anak yang Sholeh (anak yang mampu mendoakan orang tuanya).
Pendidikan dan kebudayaan itu menjadi tanggung jawab bersama antara Orang tua/masyarakat, Pemerintah dan juga sekolah, maka cerita rakyat Gajah Putih dan Sumber Sirah Nggolo ini bisa dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menjadi eduwisata yang menarik. Karena pada prinsipnya bahwa Kebudayaan itu menurut Ki Hadjar Dewantara mempunyai tiga unsur yang terkenal dengan istilah Tri Kon, yaitu consentris, convergen dan continyu.
Gajah Putih ini memiliki potensi untuk diangkat dan dijadikan sebagai icon Desa Jagul, bahkan
Logo dari Pemerintah Kabupaten Kediri adalah Gajah dalam bentuk Patung Ganesha, ini
merupakan lambang dari ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
Ki Margono kembali menyikapi dunia pendidikan, mengapa salah satu pelaksanaan dari studi tour siswa itu tidak berbasis pada lingkungan wisata dan kebudayaan di Kabupaten Kediri saja, kemudian ia mencontohkan, misalnya untuk studi tour tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) bisa dioptimalkan di tempat edu wisata yang ada di wilayah Kabupaten Kediri, seperti Edu wisata Sumber Sirah Nggolo atau yang lainnya.
Sementara pada kesempatan yang lain, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Drs. Sujud Winarko, M.Si menyampaikan, bahwa Dinas Pendidikan menyambut sangat baik program dari Mas Dhito tentang cerita rakyat. Melalui media ini, Senin siang, (18/07/2022) saat di ruang dinasnya, Sujud mengatakan bahwa, “Dinas Pendidikan sangat mengapresiasi adanya lomba penulisan cerita rakyat di Kabupaten Kediri, pihaknya berharap dikemudian hari, cerita rakyat yang berkarakter dan dikemas dengan baik, ada kearifan lokalnya, dengan konsep Eduwisata ini bisa menjadi materi atau bahan dalam pembelajaran, misalnya jadi muatan lokal. Dalam hal ini, Saya juga akan berkoordinasi dengan SKPD terkait, seperti Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Dinas yang lainnya, ” demikian terangnya (myy).


