Hari Tani Nasional & Sedekah Bumi, Wujud Syukur dan Komitmen Petani Kayen Kidul

KEDIRI, rednews.co.id – Ratusan petani dari berbagai Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) se-Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri, memadati halaman Kantor Kecamatan pada Rabu (24/9), dalam rangka peringatan Hari Tani Nasional ke-62 yang dirangkai dengan tradisi Sedekah Bumi.

Acara ini berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh makna, dihadiri oleh unsur Koramil, Polsek, Dinas Pertanian, Pemerintah Kecamatan, serta para tokoh masyarakat, penyuluh pertanian, dan generasi muda. Momentum ini menjadi ajang mempererat tali kebersamaan, sekaligus menegaskan kembali peran vital petani sebagai pilar ketahanan bangsa.

Dalam sambutan yang disampaikan oleh Sukiono, Selaku perwakilan dari petani sekaligus tokoh masyarakat setempat, menyampaikan bahwa Hari Tani bukan sekadar seremoni tahunan. Peringatan ini merujuk pada Keputusan Presiden RI Nomor 169 Tahun 1963, yang menetapkan 24 September sebagai Hari Tani Nasional—mengacu pada lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1960, tonggak penting dalam reformasi agraria nasional.

“Presiden Soekarno pernah menyebut PETANI sebagai singkatan dari Penyangga Tatanan Negara Indonesia. Ini bukan sembarang istilah, tapi pengakuan bahwa tanpa petani, negeri ini tidak bisa berdiri kokoh,” ungkapnya.

Hari Tani menjadi ajakan untuk mengenang perjuangan para petani, meningkatkan kesadaran akan pentingnya pertanian, serta mendorong lahirnya kebijakan yang benar-benar berpihak kepada petani kecil.

Peringatan ini juga mengangkat kembali nilai sejarah Sungai Harinjing, yang disebut dalam Prasasti Harinjing (Candi Lor, tahun 804 Masehi) sebagai sistem irigasi yang dibangun untuk kepentingan pertanian rakyat pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

“Sungai Harinjing bukan hanya sumber air, tapi simbol kearifan lokal. Sudah lebih dari 1200 tahun mengalir, menopang sawah-sawah dan kehidupan masyarakat Kediri,” ujar Sukiono

Sungai ini hingga kini masih menjadi tumpuan utama sistem irigasi pertanian di wilayah Kayen Kidul, terutama dalam menghadapi tantangan seperti perubahan iklim dan alih fungsi lahan.

Tradisi Sedekah Bumi digelar sebagai bagian dari rasa syukur atas hasil panen dan berkah alam. Namun panitia mengingatkan bahwa Sedekah Bumi bukan sekadar memberi kepada bumi, melainkan berterima kasih dan berjanji untuk menjaga kelestariannya.

Warga menyatakan komitmen bersama untuk:
• Menjaga kebersihan sungai dan saluran irigasi,
• Tidak menebang pohon sembarangan,
• Menanam lebih banyak dari yang diambil,
• Mendidik anak-anak mencintai alam dan tanah air sejak dini.

“Alam sudah begitu murah hati: memberi air, tanah, udara, dan hasil panen. Sedekah terbaik kita kepada bumi adalah dengan menjaga dan merawatnya,” ujarnya.

Dalam sesi wawancara khusus, Bambang Kuncoro, selaku Pengurus Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kayen Kidul, menjelaskan bahwa kondisi pertanian di wilayahnya tahun ini menunjukkan kemajuan yang menggembirakan.

“Alhamdulillah, dari segi budidaya dan hasil panen, ada peningkatan yang cukup signifikan. Petani kita sekarang lebih terampil dan mulai menerapkan teknik pertanian yang lebih baik dan berkelanjutan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa ketersediaan pupuk subsidi dalam kondisi aman, tanpa kelangkaan berarti, dan distribusinya terus diawasi agar tepat sasaran.

Selain itu, Bambang juga menyampaikan bahwa untuk mendukung program selep gabah, pemerintah memberikan perlindungan harga kepada petani melalui penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp6.500 per kilogram gabah.

“Tujuan penetapan harga ini adalah untuk melindungi petani dari permainan harga saat panen raya. Jangan sampai petani menjual gabah di bawah Rp5.500. Jika ada yang mengalami, kami imbau segera lapor ke BPP, agar kami bantu fasilitasi untuk langsung setor ke Bulog,” tegasnya.

Langkah ini memberikan kepastian pasar bagi petani dan memutus mata rantai tengkulak yang sering merugikan harga jual di tingkat petani.

Acara ditutup dengan doa bersama dan harapan agar Hari Tani Nasional bukan hanya peringatan tahunan, tapi menjadi refleksi dan komitmen bersama untuk memperjuangkan kedaulatan pangan, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan petani.

“Petani adalah tulang punggung bangsa, dan air adalah nadinya. Ketika petani sejahtera dan sungai terjaga, kehidupan bangsa ini pun akan terus mengalir,” ujar salah satu tokoh masyarakat.

Panitia mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak yang telah berpartisipasi, termasuk Gapoktan, Poktan, Koramil, Polsek, Dinas Pertanian, Camat, para sesepuh dan warga masyarakat, yang bersama-sama menjaga semangat tradisi dan warisan budaya agraris kita.(Rend)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *